Pasar aset kripto global mengalami tekanan jual yang cukup signifikan, dipimpin oleh kejatuhan token alternatif (altcoins) di tengah sentimen negatif dari bursa saham Asia. Kendati demikian, aset kripto utama seperti Bitcoin (BTC) terpantau masih mampu menunjukkan ketahanan dan bertahan di atas level psikologis USD 80.000 setelah aksi beli dari pelaku pasar muncul di kisaran level terendah sebelumnya.
Dinamika Pergerakan Bitcoin dan Tekanan Bursa Asia
Berdasarkan data pasar yang dihimpun, Bitcoin sempat mengalami tekanan hingga mendekati level USD 80.000 pada perdagangan sesi awal, mendekati titik terendah yang tercatat pada 8 Oktober lalu. Namun, tekanan tersebut berhasil diredam setelah adanya aksi masuk dari para pembeli (buyers) yang mendorong pemulihan harga ke kisaran USD 81.200, mencatatkan koreksi tipis sekitar 0,5% sejak tengah malam UTC.
Sentimen negatif global pada sesi ini sebagian besar dipicu oleh bursa saham Asia. Indeks Kospi di Korea Selatan mencatat kejatuhan tajam hingga 8% yang memicu aktifnya mekanisme penghentian darurat perdagangan (circuit breakers). Tekanan di bursa regional ini turut menjalar ke pasar berjangka Wall Street, di mana kontrak berjangka indeks Nasdaq 100 terpantau melemah sekitar 1% sebagai kelanjutan dari koreksi 1,9% pada Indeks Komposit Nasdaq sebelumnya.
Altcoins dan Token Kapitalisasi Kecil Alami Tekanan Lebih Berat
Sementara Bitcoin relatif stabil, tekanan jual yang lebih masif justru menghantam sektor altcoins dan token berkapitalisasi pasar menengah hingga kecil. Ether (ETH) tercatat mengalami pelemahan sekitar 2,0% dan diperdagangkan di kisaran USD 2.370. Indeks CoinDesk 80 (CD80) yang merepresentasikan pergerakan altcoins secara luas terkoreksi 2,2%, jauh lebih dalam dibandingkan penurunan indeks CoinDesk 5 (CD5) yang didominasi Bitcoin sebesar 0,7%.
Tekanan paling tajam terlihat pada sektor token berkapitalisasi rendah dan aset spekulatif. Indeks CoinDesk Memecoin tercatat merosot hingga 4,0%, dengan beberapa token individual mengalami koreksi harga yang signifikan. Secara keseluruhan, hampir seluruh komponen dalam indeks CD100 mencatatkan pelemahan pada sesi perdagangan ini, mencerminkan kehati-hatian investor dalam mengalokasikan likuiditas pada aset berisiko tinggi.
Faktor Makroekonomi dan Prospek Suku Bunga Federal Reserve
Selain faktor regional Asia, arah pergerakan pasar keuangan global turut dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Data inflasi AS yang dirilis sebelumnya sempat memicu lonjakan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada pertemuan Oktober mendatang di platform CME FedWatch hingga menyentuh kisaran 47%, sebelum akhirnya melunak kembali ke sekitar 26%.
Fluktuasi probabilitas suku bunga ini berdampak langsung pada posisi pasar derivatif, di mana total likuidasi posisi sempat melonjak mendekati angka USD 1 miliar pasca rilis data inflasi yang lebih panas dari perkiraan. Pelaku pasar kini terus memantau pergerakan imbal hasil obligasi (Treasury yields) serta perkembangan data makroekonomi lanjutan sebagai sinyal arah kebijakan berikutnya menjelang pembukaan sesi perdagangan Amerika Serikat.
Catatan Redaksi: Artikel ini disajikan sebagai bentuk referensi data pasar dan analisis tren keuangan secara objektif berdasarkan informasi terkini. Pasar aset digital dan finansial memiliki tingkat volatilitas yang tinggi; pembaca disarankan untuk selalu melakukan riset mandiri dan mempertimbangkan profil risiko secara cermat sebelum mengambil keputusan finansial.